Selasa, 21 Februari 2017

#

Kenali Potensi Olah Raga Yang Cocok Untuk Anda

Kenali Potensi Olah Raga Yang Cocok Untuk Anda

Kenali Potensi Olah Raga Yang Cocok Untuk Anda

Kenali Potensi Olah Raga Yang Cocok Untuk Anda | Pada saat itu, di tahun 2002, Brasil menjuarai Piala Dunia untuk kelima kalinya, yang dihelat di Korea-Jepang. Lini tengah Brasil kala itu diperkuat oleh seorang Gilberto Silva. Tidak ada pemain lain yang saya perhatikan sekali, kecuali Gilberto Silva. Bagaimana tidak, ketika itu, saya bingung mengapa pemain seperti Gilberto ini masuk skuad inti timnas Brasil dan bahkan ikut mengantar tim itu menjuarai Piala Dunia saat itu.

Pikiran ‘kanak-kanak’ saya ketika itu sering sekali bertanya-tanya, “Gilberto ini fungsinya apa ya?”. Saat itu saya menilai Gilberto ini bukan pemain yang hebat seperti Ronaldo Nazario de Lima, Zinedine Zidane, Luis Figo, atau David Trezeguet. Ketika pemain lain memiliki kemampuan individu dan determinasi yang tinggi, si Gilberto ini cuma pemain yang sering tampak mondar-mandir sembari mengoper bola, itu saja.

Setelah Piala Dunia 2002, Gilberto direkrut Arsenal. Pada dasarnya, itu hal yang wajar karena salah satu parameter yang mudah untuk menilai potensi pemain adalah tim juara. Namun, saya tetap heran, karena saya masih tak melihat Gilberto memiliki sesuatu yang istimewa. Gilberto bukan penggocek bola, tidak sering melakukan tekel, kekuatan fisiknya biasa saja, tidak terlalu ngotot. Pokoknya, semuanya serbabiasa. Bagi saya, Gilberto cuma pemain yang suka naik-turun dan mengoper bola.

Sementara saya belum berhenti heran, Arsenal malah sering menjadi juara, yang puncaknya adalah unbeaten season 2003-2004, di mana Gilberto merupakan salah satu pemain yang paling konsisten masuk barisan starter.

Gilberto bukan satu-satunya pemain yang membuat saya bingung. Ketika masih bermain untuk AC Milan, Gennaro Gattuso adalah pemain yang juga sering membuat kening saya berkerut. Gattuso tampak biasa saja, mengingat Milan saat itu memiliki pemain-pemain seperti Demetrio Albertini, Zvonimir Boban, Rui Costa, Clarence Seedorf, Andriy Shevchenko, tetapi Gattuso juga terus dijadikan starter.

Pertanyaan saya saat itu adalah, bagaimana mungkin seorang pemain yang tidak fasih melepaskan umpan silang dimainkan sebagai starter di posisi gelandang kanan. Umpan -umpan silang Gattuso pada masa-masa awal kariernya di Milan banyak yang terlalu tinggi, tidak tepat sasaran. Pokoknya, masih banyak kejanggalan-kejanggalan teknis dari seorang Gattuso, kala itu.

Gattuso semakin menarik bagi saya, karena ia masuk dalam berbagai skema permainan Milan. Dua pelatih ternama Milan di era tersebut, Alberto Zaccheroni dan Carlo Ancelotti, relatif selalu memainkan Gattuso disetiap pertandingan tim utama Milan. Sebagai anak kecil yang menggilai sepak bola kala itu, diri ini sering bertanya-tanya kenapa Zaccheroni dan Ancelotti memilih Gattuso? Bukankah secara teknik, Milan punya pemain lain yang lebih baik dari Gattuso?

Pada medio 2009 sampai 2012, saya memperhatikan satu orang pemain lagi yang sungguh membuat saya semakin bingung dan kemudian membuat saya sadar. Pemain itu adalah Rory Delap. Bagaimana tidak, Delap tidak memiliki satu pun atribut menonjol, kecuali long throw-in. Ya, Rory Delap memiliki lemparan throw in yang spesial, bola hasil lemparan ke dalam Delap kencang dan akurat. Dalam sejumlah kesempatan, throw-in Delap berujung gol untuk timnya saat itu, Stoke City.

Satu-satunya kelebihan Delap itu ternyata merupakan faktor yang dibutuhkan Stoke untuk memainkan gaya direct football atau yang sering disebut dengan kick ‘n rush. Kali ini, pertanyaan saya mendapatkan titik terang menuju pemahaman, termasuk atas pertanyaan saya mengenai Gilberto dan Gattuso.

Setelah melihat Delap, saya sadar bahwa setiap pemain sepak bola memiliki karakter uniknya masing-masing yang dapat menjadi nilai jual tersendiri bagi mereka. Delap beruntung memiliki lemparan yang sangat bertenaga, karena jika tidak, mungkin ia tidak akan pernah diperhitungkan sebagai pemain berbahaya. Dalam ilmu bisnis, fenomena Delap secara filosofis dekat sekali dengan teori competitive advantage strategy.

Mungkin kesadaran akan kebingungan-kebingungan saya juga didukung oleh beberapa kisah pesepak bola yang sukses setelah mengenal dan menerima diri mereka. Sebelum menjadi penjaga gawang, Peter Cech adalah seorang striker.  Emile Heskey yang sempat dikenal sebagai penyerang eksplosif, awalnya menekuni olahraga tinju. Gareth Bale yang belum lama ini mendapatkan penghargaan Pemain Terbaik PFA sebelumnya adalah pemain rugby. Untuk Gilberto Silva, sebelum menjadi pesepak bola, ia pernah menjadi pemecah batu dan buruh pabrik gula. Jika saja mereka tidak berhasil menemukan potensi diri, yang mungkin merupakan satu-satunya kelebihan mereka, mungkin mereka tak dikenal luas seperti sekarang.

Penemuan potensi diri tersebut dapat berasal dari dalam maupun luar diri sendiri. Thierry Henry, jika saja tidak dijadikan Arsene Wenger sebagai penyerang tengah dalam skema 4-4-2, mungkin tidak akan setenar sekarang. Begitupun Andrea Pirlo, jika Ancelotti tidak menemukan titik potensi maksimal darinya di posisi regista, mungkin sampai kapan pun Pirlo hanyalah seorang pemain rotasi. Bale juga bisa mencapai level performa maksimal setelah Harry Redknapp memainkannya di posisi left midfielder (instead of left back). Bahkan sekarang Bale diberikan kepercayaan Andre Villas-Boas menjadi striker.

Bagaimana dengan Adriano Leite Ribeiro dan Luis Suarez? Mereka adalah contoh pemain dengan potensi diri yang dikuasai betul oleh faktor eksternal berupa kasih sayang dari lawan jenis, alias kekasih. Adriano adalah striker yang sangat berbahaya sebelum ditinggalkan oleh sang kekasih hati. Ya, media-media di eropa menyebut ‘anjlok’-nya performa Adriano secara drastis disebabkan faktor ‘patah hati’ dari sang kekasih.

Untuk Suarez, ia memiliki kisah asmara yang lebih ceria. Kekasih Suarez, Sofia Balbi, pindah ke Spanyol dari Uruguay pada 2003 untuk mengikuti jejak keluarganya. Ketika itu Suarez sangat terpukul, dan sempat berhenti bermain bola. Sampai pada suatu hari Suarez sadar bahwa satu-satunya cara untuk mengejar sang pujaan hati adalah kembali bermain bola seapik mungkin, sehingga dia diincar dan pindah ke klub eropa, dan dapat dekat kembali dengan Sofia.

Kegigihan membuat Suarez direkrut FC Groningen sehingga ia dapat berkumpul kembali dengan tambatan hati. Titik motivasi akan Sofia inilah yang membuat determinasi Suarez sebagai pemain sangat tinggi, dan diakuinya sebagai atribut yang mempengaruhi performanya sampai sekarang. Herman Pinkster, bekas manajer Suarez di Ajax pernah mengatakan, berkata “Sofia sangat penting bagi Suarez, dan bisa jadi adalah satu-satunya orang yang dapat mengontrol emosi Suarez yang berlebihan”.

Setelah melihat pemain-pemain unik itu, bisa dipahami kenapa Ancelotti dan Zaccheroni (atau bahkan Alex Ferguson) mengidolai Gattuso. Gattuso memiliki karakter yang jarang dimiliki pemain lain, yaitu ambisi menjadi pemenang dan semangat pantang menyerah. Brian Laudrup, rekan Gattuso ketika di Rangers, mengakui bahwa Gattuso bukanlah pemain yang fantastis secara teknik, tetapi Gattuso adalah seorang pemenang, yang selalu menuntaskan tugasnya, dan sangat agresif. Atribut mental menjadikan Gattuso pemain yang dikenal saat ini: pernah menjadi juara dunia bersama Italia, dan beberapa kali juara bersama AC Milan. Gattuso tahu, secara teknik, ia tak bisa menandingi Zidane atau Pavel Nedved, tetapi ia punya karakter yang membuat orang berkualitas teknik di atas rata-rata angkat topi untuknya. 

Poin tertinggi dari rekor statistik Gattuso adalah FC (Fouls Commited), yang berarti Gattuso memang pemain yang sangat sering melanggar lawan. Ini artinya, Gattuso memang digunakan sebagai perusak tempo lawan ketika menguasai bola. Para Juventini mungkin masih ingat bagaimana Gattuso "mematikan" Nedved ketika Milan menang 3-1 atas Juventus di bulan Oktober 2005 serie-A. Bahkan ketika itu Nedved harus ditarik keluar karena pergerakannya selalu dibayangi Gattuso sehingga tak bisa mengembangkan permainan baik dirinya maupun tim. Para Manchunian juga mungkin masih ingat ketika Cristiano Ronaldo dibuat tak berkutik oleh Gattuso pada pertandingan Liga Champions antara AC Milan dan MU pada 2007. Gattuso mungkin jarang terlibat dalam agresi Milan di lapangan, tetapi siapa pun yang mampu menghentikan The Czech Cannon atau Ronaldo jelas bukan orang biasa dan mampu berkontribusi bagi tim meraih kemenangan. 

Entah apakah Gattuso bisa menemukan dan menunjukkan potensinya karena faktor internal atau eksternal. Yang jelas, karakter agresif seorang Gattuso telah membuat pelatih-pelatih di masanya melupakan kualitas teknis si pemain. Dengan kemampuannya itu, Gattuso bisa dipakai sebagai trade-off keseimbangan ‘menyerang-bertahan’ dengan Pirlo yang berposisi sebagai central regista. Dan, jika melihat perkembangan permainan Gattuso pada masa kejayaannya, Anda akan kagum karena Gattuso mampu memenuhi mencapai standar minimum dalam hal kualitas teknik, sehingga ia semakin bermanfaat bagi tim. 

Kembali ke Gilberto, betul saya sempat meragukan kemampuan pemain ini, namun setelah mempelajari sepak bola modern, sebuah tim ternyata memang membutuhkan pemain yang mampu mengalirkan bola-bola ‘aman’ yang berfungsi untuk menstabilkan tempo. Peran ini dilakoni dengan sangat baik oleh Gilberto. Terlebih, statistik telah membuktikan bahwa variabel passes completed sangat dekat dengan kemenangan. Bukankah simple pass dari Gilberto ikut berkontribusi terhadap kuantitas passes completed yang tinggi dan kestabilan tempo tim?

Di dalam tactical football, tempo sangatlah penting. Banyak sekali input strategi yang berbasis pada tempo, sebut saja snake strategy, yaitu menjalankan tempo yang relatif lambat, untuk kemudian dihentak dengan tempo yang tinggi melalui akselerasi dan penetrasi yang sangat cepat, sehingga lawan ‘lengah’ dan terlambat dalam menghentikan pergerakan tim. Alex Ferguson pernah menegaskan bahwa ”delivery is everything”, menunjukkan bahwa kualitas tempo berpengaruh terhadap akurasi.

Ancelotti pernah memberikan tactical insight yang menggambarkan betapa ruginya sebuah tim ketika menghadapi lawan yang mampu menurunkan tempo permainan. "Saya selalu mengatakan kepada tim saya untuk menghindari segalanya yang bisa menurunkan tempo permainan. Mereka harus beraksi dengan cepat dan efektif di lapangan," ujar Ancelotti.

Tim-tim di Italia adalah pengguna setia strategi slow-the-tempo, beberapa kali mereka menggunakan strategi tersebut, dan berhasil. Contoh-contoh itu menunjukan betapa pentingnya peran seorang pemain yang mampu mengatur tempo di sepak bola modern, dan Gilberto melalui umpan-umpannya sukses menjaga tempo permainan tim-tim yang pernah dibelanya. Akhirnya saya sadar, Gilberto menemukan bahwa potensi dirinya bukanlah menjadi penggocek ulung macam Ronaldinho, melainkan seorang pengantar bola. 

Masih banyak sebenarnya pesepak bola yang menyadarkan saya tentang arti sesungguhnya mengenai talenta dan kemampuan. Banyak orang tidak menyadari, bahwa di dalam dirinya terdapat kemampuan luar biasa dan bermanfaat untuk banyak orang. Apa yang terjadi jika dahulu Gilberto Silva memilih menjadi seorang striker? Apa juga yang terjadi bila David Beckham tidak berlatih khusus untuk mengasah akurasi umpan silang dan tendangan bebasnya? Dan apakah seorang Bastian Schweinsteiger akan setenar sekarang jika dulu ia lebih memilih olahraga ski es?

Einstein pernah berkata ”Jika anda menilai seekor ikan berdasarkan kemampuan memanjat pohon yang dimiliki monyet, sampai kapanpun ikan tersebut akan bodoh di mata Anda”. Prinsip serupa berlaku dalam sepak bola. Semua pemain sepak bola itu hebat, asal mereka tahu dan menerima potensi dirinya.

Saya jadi ingat nasihat Ibu saya yang selalu diulang-ulang dari dulu sampai sekarang: “Nak, kenali potensi dirimu. Semua manusia itu hebat, hanya saja ada beberapa manusia tidak tahu potensi dirinya”.

Mungkin nasihat Ibu saya itu sama dengan yang diterima Gilberto, Gattuso, dan Delap, dari ibu mereka masing-masing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar